Jumat, 05 Desember 2025

Kami Menyerah

Desember 05, 2025

Kami menyerah.

Kami menyerah atas masalah yang tak hanya menghilangkan kenyamanan,

jauh dari itu, ini masalah menghilangkan nyawa. 


Terhitung angka, tiada rasa.

Untung rugi, bukan empati.


Lima ratus lebih nyawa bukan jadi masalah asal 1 hektar lahan mereka tidak berkurang.

Terperas habis.


Hari ini kami berhadapan dengan orang yang terasa tak jelas keilmuannya, yang terasa tak jelas intensinya, yang terasa tak jelas rasa kemanusiaannya, namun benar-benar terasa jelas oportunisnya, serakahnya, ketidakpeduliannya, pencitraannya.


Hari ini kami berhadapan dengan ‘dealer’ bukan ‘leader’.


Yang kebijakannya diukur oleh seberapa untungkah bagi bisnis mereka, seberapa besarkah uang yang masuk ke kantong mereka, seberapa menariknya objek menjadi citra dirinya, ah menjijikkan.


Hari ini memang tak terasa nyata bagiku, tapi benar-benar terasa di hati, menyedihkan. Namun, rasa di hati itu hari ini itu tak menjamin bahwa hidup kita akan selamat. Hanya menunggu waktu hingga praktik jahat ini sampai di depan rumahmu, mengetuk pintumu, menyapamu, hingga mengambil nyawamu.


Bukan, bukan, bukan semoga akhirat akan membalas nanti.

Tolong,

Kami, butuh,

Kami, ingin,

Segera,

Bawakan akhirat itu ke mereka, sekarang juga.

Nyala Dipanegara

Desember 05, 2025

Beberapa waktu lalu, Peter Carey, Asisi, dan Bagus Muljadi membicarakan mengenai sejarah bangsa dan dalam satu kutipan tersebutlah nama Diponegoro. Satu yang menarik perhatianku, Peter Carey menyebutkan bahwa ada sebuah pertanyaan dari kolonial mengenai Diponegoro yang jauh dari sifat santun dan nrimo ing pandumnya orang Jawa pada umumnya. Jauh dari itu, Diponegoro justru cenderung berani, mengedepankan keadilan, dan dalam posisinya sebagai bangsawan Kraton, sangat membela rakyat jelata. Hipotesisnya mengarah pada kesimpulan yang cukup membuatku merasa, “ah ini dia”. 


Ia menyebutkan, pada dasarnya orang Jawa bukanlah yang kita kenal selama ini, pasif dan nrimo ing pandum. Orang Jawa itu, pemberani, meladeni tantangan, dan menjunjung harga diri. Sebagaimana kita tahu bahwa harga diri merupakan hal yang sangat sensitif bagi kebanyakan orang. Jawa dalam prinsipnya benar-benar memaknai itu dalam sebuah ungkapan yang cukup terkenal: 


Sadumuk bathuk, sanyari bumi, ditohi tekan pati”.

(Sedikit saja harga diri diinjak, akan dibela sampai mati).


Mungkin inilah nilai yang benar-benar aku lihat dalam seorang Antawirya, atau lebih dikenal dengan Diponegoro.


Tak sekedar cerita dan kisah dari pemberi ilmu, hari ini aku menyaksikan langsung betapa keberanian Diponegoro  terlukiskan secara manis dalam rangkaian cerita perjalanan kehidupannya. 


Bentang kanvas dan coretan tinta itu benar benar memberikan nuansa keberanian dan ketegangan masa silam, kisah legendaris Perang Jawa 1825-1830. Bukti bahwa upaya upaya itu ada dan benar-benar memberikan, tak hanya kerugian pada kolonial, tapi juga rasa bahwa selalu ada harapan dalam setiap perjuangan. 


Dari berbagai lukisan yang terpampang megah di Galeri Nasional sore ini, tentu, bintang utamanya adalah karya Raden Saleh. Terlukis indah sarat makna, benar-benar sebuah karya. 


Walaupun mengalir di darahku jebolan ASRI Yogyakarta masa lalu, sungguh keterbatasanku pada penafsiran di bawah rata-rata, yang jelas, aku merasakan tapi tidak cukup bisa menjelaskan. 


Pintu besar Galeri Nasional menyapaku kembali, aku keluar dengan rasa kemegahan perjuangan yang luar biasa. Seperti tema/judul pameran ini, NYALA apinya benar-benar membakar.