Kami menyerah.
Kami menyerah atas masalah yang tak hanya menghilangkan kenyamanan,
jauh dari itu, ini masalah menghilangkan nyawa.
Terhitung angka, tiada rasa.
Untung rugi, bukan empati.
Lima ratus lebih nyawa bukan jadi masalah asal 1 hektar lahan mereka tidak berkurang.
Terperas habis.
Hari ini kami berhadapan dengan orang yang terasa tak jelas keilmuannya, yang terasa tak jelas intensinya, yang terasa tak jelas rasa kemanusiaannya, namun benar-benar terasa jelas oportunisnya, serakahnya, ketidakpeduliannya, pencitraannya.
Hari ini kami berhadapan dengan ‘dealer’ bukan ‘leader’.
Yang kebijakannya diukur oleh seberapa untungkah bagi bisnis mereka, seberapa besarkah uang yang masuk ke kantong mereka, seberapa menariknya objek menjadi citra dirinya, ah menjijikkan.
Hari ini memang tak terasa nyata bagiku, tapi benar-benar terasa di hati, menyedihkan. Namun, rasa di hati itu hari ini itu tak menjamin bahwa hidup kita akan selamat. Hanya menunggu waktu hingga praktik jahat ini sampai di depan rumahmu, mengetuk pintumu, menyapamu, hingga mengambil nyawamu.
Bukan, bukan, bukan semoga akhirat akan membalas nanti.
Tolong,
Kami, butuh,
Kami, ingin,
Segera,
Bawakan akhirat itu ke mereka, sekarang juga.