Minggu, 24 Juni 2018

PELECEH DAN TERLECEH

Juni 24, 2018
Resah tenan nek iki aku.
Sexual harassment.
“cowo baik – baik itu gak akan ngelecehin wanita”
“bukan masalah wanitanya, tapi masalah cowonya”
“don’t blame the victim”

Ki yo lur, gusti allah ki wes menciptakan laki – laki dan perempuan b.e.r.b.e.d.a laki laki diciptakan dengan dasar logika nek perempuan nganggo perasaan. Jadi emang kadang laki2 nggak mikir sampai perasaan, sebaliknya. 
Hanjuk le salah sopo jal nek ono pelecehan seksual?
Iki pendapatku yo, dengan dasar
  1.  sebagai seorang laki – laki
  2. manusia diciptakan tidak sepemikiran 
  3.  semua kebenaran dunia adalah relatif
Cah – cah lanang ki mesti seneng ndelok wong wedok ayu, entah darimana sudut pandangnya, entah dia berkerudung atau tidak, karena yo cen mau gak mau, gelem ra gelem wes pasti nek kabeh wong ki mesti ndelok bungkuse sikik daripada isine, mbok totoan kowe nek misal dikon milih buah le dituku seko giwangan karo seko superindo sing wes di kei sterofoam ro plastikan mesti milih sing kui. Dengan catatan isi pikir keri. Intine sing di delok pertama ki mesti bunkuse.
Ha njuk isine, setelah yakin dan percaya dengan bungkusnya, hal kedua mesti ndelok isine, untuk tindakan yang selanjutya. Akdewe kudu ndelok sik, apakah buah e ki bosok po ora, nek bosok ora dipangan nek ora bosok dipangan.
Ha njuk nek pelecehan seksual piye menurutku?
Saiki nek misal tak nei pilihan nggo lanang, ono 2 wong, sijne nggo bh tok, sijine kaosan cendek. Le di godo seng endi? Njuk compare meneh kaosan cendek karo lengen dowo, njuk lengen dowo ro jilbab gawl, njuk jilbab gawl karo jilbab ninja. 
Masalahe, di dalam masyarakat ki ora mung disediakan 2 pilihan. Tapi a lot of wedok2 seng beragam. Nek kowe ngomong jilbaban tapi tetep dilecehkan, yo cen hoo!. Soale ono pembandinge yang daripadanya lebih tidak dipilih untuk dilecehkan. 

Ngaranmu ki, pelecehan ki kyo ngopo cobo, 
leceh/le·ceh/ /lécéh/ a 1 meleleh dan melekat pada tempat yang dilalui (seperti lilin yang cair, air gula pada bibir); 2 ki remeh; tidak berharga: ia merasa -- di tengah pesta yang meriah itu; 3 ki rendah sekali mutunya (nilainya): surat kabar yang -- kurang mendukung pendidikan anak-anak; 4 ki buruk kelakuan; hina: orang yang -- budi dijauhi teman;

meleceh/me·le·ceh/ v 1 memuji-muji supaya disukai; menjilat pantat: kerjanya tidak lain daripada ~ dan menyanjung-nyanjung majikannya; 2 menghinakan; memandang rendah (tidak berharga); mengabaikan: orang sering ~ dia karena perbuatannya itu;

melecehkan/me·le·ceh·kan/ v memandang rendah (tidak berharga); menghinakan; mengabaikan;

peleceh/pe·le·ceh/ n 1 orang yang suka memuji-muji dan sebagainya; penjilat; 2 orang yang suka meremehkan (merendahkan) orang lain;

         
Nek menurut kbbi ki koyo ngono, saiki tak Tarik kesimpulan wae kui ngaranku ada 2 point;
  1.    Memandang rendah
  2.   Memuji supaya disukai

Salah satu bentuk pelecehan ki memandang rendah, iki tak akoni cen laki2 itu memandang rendah perempuan dengan tidak memperdulikan bahwa objek lecehanya itu seseorang yang punya hati/perasaan atau tidak. Ia cenderung wes waton anane, sak kecekel e sebagai bahan nafsunya, iki pancen. Banyak kasus e misal pelecehan secara fisik ataupun verbal.
Tapi ngene, nek menurutku manusia ki punya sesuatu yang dinamakan etika/moral. Iki biasane hukum tak tertulis yang kadang banyak dilupakan manusia. Nah sedangkan laki2 punya yang namanya apa yang dicirikan sebagai pemuas nafsu. 
Ngene, contoh kasus misal cah lanang ki weruh cah wedok ayuuuuuu buangeettt sak jagad raya ning ndalan. Opo iyo ora arep di delok? Opo iyo ora arep dipandang? Nek aku sih isih. Tapi poyo lanangan ngono arep langsung marani njuk nyium langsung ndemok susune? Lak yo ora to. Gampangane ngene, kowe ning ndalan ki nyium ambu ambu nasi padang wuenak tenan nggonne wong liyo. Ngambu laky o enak to, menikmati, ngambu njuk ngmatke neng jejere oleh ra? Oleh. Tapi kui jenenge saru. Nah seng ketelu iki, bar ngambu, marani, ngematke njuk mok untal kui segone nggonne wong liyo po oleh? 
Hakui lho masalah e wong sak iki ki, akeh seng ngroso kepemilikan itu tidak terlalu berarti ketika kita merasa paling benar. Dalam konteks sexual harassment yo kepemilikan harga diri. Harga dirine wong wedok merasa bukanlah seuatu yang penting bagi laki laki. 
Ha iki lho sing aku ra setuju ki, akeh hal – hal sing menurutku bukan salah laki2. Tapi nek misal lanangan kui mau wes mlebu ning tahap 2 sing langsung marani nyium ro ndemok susune kui mau, fix setuju banget aku nek kui salah lanangane. Karena manusia ki mesti dibekali etika marang wong liyo, ada hal – hal yang tidak harus dia lakukan tapi hanya perlu dia batin. Nah iki lho masalahe, jaman sosmed ngeneki, sing dibatin kui sing ditulis. 
Nek misal kowe ra nulis ning internet ki ra bakal dadi masalah. Tapi kadung mok tulis kui dadi masalah. ha iki berlaku nggo sopo kui seng jenenge victim. Nek kowe ra siap nduwe sosmed, rasah nggawe wae. Karang yo kabeh wong neng ndunyo iki ki iso ndelok sosmedmu, iso komen ning nggonamu, po yo kowe arep membatasi wong seng iso ngakses akunmu? 
Memuji supaya disukai
Ciri pelecehan yang kedua, saiki tak takon nggo wedok kui sing sok diomongi ayu karo wedok liyane, memuji “canti banget gakuku” “ya allah bidadari darimanaa” taek a. ngono ae kon seneng mbarang ngono ae gak dilokno pelecehan. Yoiku kon iku mung seneng nek kon dilokno apek, padal ndek sosmed ki gak kabeh kudu mbok posting, orak kabeh wong sing komen iku wong apik, orak kabeh wong ndek donyo iku wong apik, akeh wong jahat ning internet, akeh wong busuk ning internet, nek kon dorong siap nduek sosmed, gasaha gae. Nk kon dorong siap dilokno elek rasah gae. Kon niate pamer tapi mbasan dilokno elek njuk nglokro, nyalahno seng komen. 
Karena ya itu tadi, tidak semua orang paham bahwa tidak semua orang di dunia ini adalah orang baik, mereka cenderung tidak siap untuk menerima kekecewaanya atas ekspektasinya bahwa semua orang itu baik, makanya ketika dia menemukan orang jahat, itu cenderung membuatnya menjadi seperti orang yang putus asa dengan ekspektasinya.

Selasa, 12 Juni 2018

PILIHAN HIDUP

Juni 12, 2018
Kadang sering liat statement manusia yang mendeklarasikan dirinya sebagai oang yang netral. Orang yang tidak memilih di antara 2 atau lebih pilihan yang ada, tapi menurutku itu nggak mutlak benar. 

Karna sejatinya sebagai manusia punya naluri, akal dan perasaan yang membimbing dia untuk memilih atau melakukan hal yang ia sukai atau tidak sukai, hal yang masuk ke hati dan yang kontra dengan hati. Seperti itulah sejatinya manusia hidup dalam dunia ini, dunia yang penuh pilihan. Tapi kadang walupun tidak semua, ada yang memilih dengan bukan berarti tidak menyukai salah satu atau menyenangi salah satu. 

Kita mendeklarasikan diri sebagai orang yang independen dalam tataran lingkup yang condong ke salah satu pilihan. Memilih itu bukan berarti hal yang buruk, bukan juga melulu baik. Manusia memilih karna dia butuh, dari pelajaran masalalu kehidupanya untuk kelangsungan hidupnya di masa datang. 

Ketika kita ada dua pilihan makanan misalnya, soto dan bakso. Ketika orang memilih soto, bukan berarti dia membenci bakso dan sebaliknya. Tapi tidak mutlak begitu, bisa saja memang ia memilih soto karena benci bakso, juga bisa.

Intinya, dalam menjalani masanya di dunia, manusia akan di hadapkan pada beragam decision yang tanpa sadar akan dipilihnya sesuai kemauanya sesuai dengan pertimbangan dari naluri, akan, dan perasaan. 

18 April 2018

Senin, 28 Mei 2018

GENERASI LEMAH, KATAMU

Mei 28, 2018
Generasi buruk, katamu? Generasi lemah katamu?
Banyak orang yang menyayangkan perkembangan generasi masa kini, generasi millenials, generasi micin, dan sebutan umpatan lainnya. Lalu, Salah siapa?
Yo salahmu!

Ketika anak dikekang untuk main di luar, ketika dari kecil sudah di didik dengan perlakuan lemah lembut, ketika dari lahir sudah dekat dengan mudahnya dimaafkan, ketika  salah justru malah dilindungi.

Perkembangan suatu generasi tidak mutlak langsung kontrasl ke generasi lainya, tapi perkembangan pola generasi tumbuh seara perlahan yang memakan banyak waktu. Anak umur 18 tahun tidak mutlak beda dengan anak umur 20, dan seterusnya. Mereka tumbuh secara perlahan, secara bertahap dari masa ke masa.

Pola pendidikan orangtua pun demkian, tidak sedikit yang bertambah dan memang ini pergerakan zaman, orangtua zaman dahulu,  mendidik anaknya dengan keras, kebanyakan dengan kontak fisik jika mereka melakukan kesalahan. Dasar dari semua pendidikan itu adalah kejujuran dan kebenaran. Sekarang, para generasi X itu yang sudah menjadi orangtua, tidak ingin melakukan hal yang pernah ia alami karea ia tahu rasanya, ia tahu rasa sakitnya ketika harus dipul sapu kalau melakukan kesalahan, ia pun menerapkan system kasih saying yang luar biasa pada anaknya. Ya begitulah zaman terus berubah, pola pendidikan juga terus berubah. Lalu sekarang kau sebut mereka itu lemah?!

Saya tak habis piker betul, karena perkembangan suatu generasi pastinya tidak lepas dari generasi2 sebelumnya, Seorang anak pastinya juga bergaul dengan kakaknya, orangtuanya, kakek nenek. Yang semua itu berbeda generasinya. Pasti hal yang di tangkap anak itu juga berbeda, dan itu bersatu menjadi sifat anak itu.

Sebuah riset mengatakan, dulu sebelum millennium baru, system makan di meja makan itu, semua orang tidak akan makan duluan sebelum ayah mereka makan, itu adalah bentuk penghormatan kepada orangtua yang mana aya juga seorang kepala keluarga. Zaman berganti pola makan pun berganti, tahu bagaimana? Ya, ayah tidak akan makan duluan daripada anak. Pada zaman ini, orangtua sadar bahwa anak ada penerusnya dan apapun yang terbaik hanya untuk anaknya, say amah gampang, pikirnya. Tahu dampak dari perbedaan system makan bersama ini? Pada zaman dahulu tentu saja dengan seperti itu maka ayah adalah orang yang paling dihormati dan mungkin tidak akan dad yang berani dengan bbeliau. Dampak satunya? Ya kadang anak jadi ‘nranyak’ dengan orangtuanya, karena ia pikir, tidak apa – apa karena itu bukan sebuah keaslahn karena tidak ada dampak apa – apa ketika dia melakukan itu. Pada zaman ini mulai terbentuk anak yang ‘ora ngrumangsani’. Hal yang saya ceritakan ini bukan terjadi di 20 tahun belakang. Hal ini sudah berlangsung lama sekali sebelum itu.

Akhir akhir ini bnayk kasus yang seakan – akan orangtua membela anaknya karena ‘disiksa’ oleh orang lain, contohnya saja ketika anak di pukul sama guru, anaknya kena ayunan ang bahkan bukan hal yang disengaja. Lalu dengan gentlenya para orangtua itu berdiri di depan anaknya seoalah anak mereka tidak sedikitpun melakukan kesalahan. Ya, mereka berdiri di garis depan untuk meladeni siapapun orang yang mencoba menyentuh anaknya. Lalu kau sebut generasi mereka itu lemah. Kan jancuk.

Mereka tidak diberikan kesempatan untuk membela dirinya, mereka tidak diberi ruang untuk menghadapi apa yang terjadi padanya itu benar atau salah. Tahu, dampak dari semua itu? Anakmu jadi mereasa benar, dan ketika seorang anak sudah mencapai taraf ‘merasa paling benar’ ia akan menyalahkan orang lain utnuk hal yang berbeda yang dilakukan ornag lain. Tahu ketika mereka disalahkan karena sejatinya mereka memang salah? Mereka akan merengek padamu, karena kau adalah pahlawanya, yang menlindunginya ketika salah, maupun salah.

Lalu bagaimana? Biarkan anakmu berkembang, biarkan generasi baru untuk menghadapai zaman seara individual, agar mereka bisa menyaring apa yang terjadi padanya. Agar meraka dapat menyaring ‘apa yang salah, apa yang benar’ Agar mereka dapat memahami ornag lain, agar mereka dapat mengasihi orang lain, juga dengan tidak untuk mendahulukan egonya sendiri.

Biarkan anakmu jatuh sakit, biarkan juga anakmy mencoba hal yang baru dalam hidupnya, biarkan dia nakal karena kelakuanya yang bodoh, Agar ia tahu bagaimana rasanaya berjuang untuk sembuh, agar ia tahu nikmatnya ketika sehat, agar ia tahu bagaimana rasanya semua hal di dunia ini, karenanya ia dapat memahami semua yang diperjuangkan oleh orang lain, agar ia tahu bahwa nakal itu sebuah kebodohan, agar ia tahu bagaimana untuk bertindak tidak bodoh dan tidak jadi beban bagi orangtua mereka. Agar kau menyadari bahwa semua itu berujung padamu dan Agar ia tidak lagi kau sebut, Lemah.