Selasa, 28 November 2017

PRAHARA UDAN

November 28, 2017


Dadi saiki, tanggal 28 november 2017 jogja lagek heboh mergo dampak badai tropis cempaka le jarene diprediksi bakal 3 dino.

Nek udan ngeneki, dadi kelingan omah. Oponeh nek wis udan deres ngene.

Aku tinggal ning cerak kali code, angger udan deres tanggaku mung do nilak niliki kali karo khawatir banyune munggah. Mboko pirang menit msti ono wae le mondar mandir ngarep omah karo grenengan (ngomong dewe tapi maksud e ngandani wong liyo, tapi ora ono wong liyo janne) nek banyune munggah po piye ngono. “banyune wes tekan sardjito!” “banyune tekan sayidan!” welha sayidan wis munggah e banyune, nggone mbak menik wae wes sak dengkul!” kui mau adalah beberapa ungkapan seng biasane diutarakan.

Tangga tanggaku ki do kendel kendel, angger udan deres njuk banyune code munggah ngene biasane do mlaku karo gowo jaring, ra mung njaring seko nduwur, seko ngisor wae dilakoni. Ngko bali bali karo mrengas mrenges karo ninting nila opo sidat. Nek sing cah cilik paling mung komanan sapu – sapu. Raopo itung itung nggo isen – isen akuarium.

Memasukin 2010 ke atas info yang tersampaikan semakin modern dan efisien. 2010 ki sak bar e merapi njebluk. Njuk dibentuk ono Code X (semacam relawan ngono nganggo seragam oren oren barang. Aku ra reti struktur e piye tapi cakupan e dek e nganti ngawal pemilu barang) mergo tanggaku akeh le anggota Code X dadi do nduwe HT le ngabarke keadan banyune kepiye.

Yo ikilah lek tak kangeni, penake urip ning kampung ki tangga teparo do peduli siji lan liyane. Ora mung ndekem ning omah slimutan karo nyruput indomi.

Nek udan – udan ngene barang dadi kelingan mesti njuk janjen meh udan – udan ro konco konco. Sakjane ra janjen ding. Biasane mung wong 2, njuk ngampiri liyane, akhire sak bregudug do playon turut dalan karo gowo bal. Ono le bal balan, ono le gawe bendungan, ono le dolanan lemah, ono le ngadeg jejeg ning ngisor gendeng nampani trocohane banyu udan.

Biasane mboko siji njuk do ilang mergo dipethuk ibune ro payungan nyangking sendal karo bengka bengok turut ndalan nggoleki anake. Biasane anak e langsung mlayu njranthal wae. Nek aku ora ngono soale biasane nek udan sore ngene ibukku rung bali kantor, wkwk.

Mbasan tekan omah adus reresik, digawekke indomi ro nonton kartun ditemani greneng greneng nyeneni sithik. Sisuke mangkat sekolah karo sentrap sentrup mergo udan udanan.

 Nyelot gede nyelot ra seneng karo udan, seakan akan nyusahi dan menghambat pekerjaan. Jigur sok sokan. Marake kebiasaan kui nyelot ilang, tapi nek ning kampungku tergantikan oleh generasi generasi baru yang tambah mbeling. Mugo mugo wae isih, (nek do ra dolanan mobile legend).

Yo ngono kui masa kecilku, aku ra reti kui masa kecil bahagia po ora, perspektiv wong bedo bedo. Tapi nek seko aku sih, daripada saiki luwih bahagia mbien.

Rasah sok sokan pengen bali ning jaman cilik meneh, kui terlalu klise, tapi cen jaman cilikan ki isine mung ngguyu karo gelut sisan. Ora ono kemunafikan yang terjadi dan politik atau apapun itulah. Sederhana.

Menyebut bencana sebagai musibah ki koyo piye yo, maksudte kowe ki urip ning bumi iki ora mung manungso tok. dan pergerakan alam ki wes mesti ono. Tapi akdewe seolah kaget kok iso kedaden ngene. Opo mungkin manungso wes lali nek uripe ki ra dewe?

Malang, 28 November 2017

Minggu, 26 November 2017

MENTAL EKONOMI

November 26, 2017


Hari itu sudah mulai gelap karena mendung mulai menggelayut di langit Malang, rasan rasane ndang pengen cepet mulih.

Jam 10an saya ‘genah’kan tugas besar gamtek yang bikin tidur tidak nyenyak itu, saya serahkan 6 5 tugas besar untuk di acc dan dinilai. Lalu langsung cus kosan siap siap dan pergi ke stasiun.

Rencana hari ini mau pulang ke jogja, sakjane ora kangen sih, tapi mumpung raono gawean wae ning malang. Di stasiun beli tiket, tapi dari surabaya (?). jadi ceritanya beli tiket surabaya-lempuyangan, pake sri tanjung jam 13.30.

Balik kos lagi langsung pancal surabaya, estimasiku 2 jam kurang udah sampe tapi ternyata berbeda-_- karena macet jadi 2 jam lebih + hujan. Akhirnya nggak bisa titip motor di kosan brian gek dalane suroboyo ki njlimeti tenann. Langsung cul stasiun, parkir, check in, eh lhah keretane langsung mangkat. Untung rasido parkir nggone brian.

Oke sakjne kui mau ra penting, yang mau saya ceritakan adalah ini.

Sri Tanjung, relasi Banyuwangi-Lempuyangan, kereta ekonomi berangkat 1 hari sekali, harga tiket Rp 94.000 (per nov 2017) model seat 3-2.

Sebenarnya keretanya tak ada bedanya dari lainya, sama saja. Tapi suasananya berbeda, iya. Kereta ekonomi yang notabenenya bukan tumpanganya orang oran mewah. Pertama masuk langsung disuguhkan keriuhan di dalamnya. Saya kalau naik kereta suka ngajak ngobrol samping kanan kiri depan, sebelum nanti tinggal tidur hehe. Bapak – bapak di kanan saya ini bersama keluarga besarnya, iya besar.. 7 orang dewasa beserta sekumpulan anak kecil yang riuh. Mau ke solo dari banyuwangi karna ada ewuhan sodaranya. Ibu – ibu depan saya mau ke jogja, ia asli banyuwangi tapi tinggal di mlati, jl magelang.

Selalu ada cerita di dalam kereta ekonomi, bukan kesepian seperti kereta level dia atasnya. Bagiku ekonomi punya daya tarik sendiri, seakan akan di dalamnya terdapat cinta antara sesama jiwa yang punya satu tujuan itu, antara masinis dan tuas kemudi, antara iler yang mengalir di sepanjang kaca jendela. Diiringi dengan mulai mendinginya ac rumahan itu.

Setiap berhenti di stasiun selalu ada saja yang keluar untuk ngudud karena nafsu yang tak bisa ditahan karena mulut yang semakin sepet karena kurang sebat.

Karena ini kereta yang melintas di jawa, dan pastinya ada orang jawa, selalu ada tipikal ciri ornag jawa, apaitu? Ngomongke ning mburi wkw.

Satu seat depan saya adalah bule yang kayaknya mau travelling ke jogja, dan sebrangnya adalah mahasiswa yang punya produk roti yang entah. Si mahasiswa itu mulai berbincang like a friend dengan si bule itu nawarin rotinya, gratis ya.

Orang jawa belakangnya keluar kata “ngopo kui?” “nawari roti londhone” “lhakok dewe ora?!” “lha kowe udu wong londho!”

Kereta terus meluncur di sepanjang rel yang licin karena memang sepanjang jalur hujan tak kunjung berhenti, seakan ;mengganggu pandang masinis dan membuat cemas apakah apa yang dikemudikanya ini akan berjalan dengan lancar?


Malang, 26 November 2017

Sabtu, 04 November 2017

RASUKI

November 04, 2017

 
Semua rasa yang ada

Yang merasuk jiwa begitu saja

Entah kemana hilirnya

Ataupun asal muasal hulunya

 

Rasa yang tak terdefinisi

Dengan arti yang sungguh sejati

Mungkin ini hidayah illahi

Yang maha membolak – balikkan hati

 

Aku harap rasa ini abadi

Tapi apalah manusia tak tahu diri

Melaknat apa yang diberi

Seolah ia tuhan atas dirinya sendiri

Kamis, 02 November 2017

RASA CINTA

November 02, 2017

Aku memang bukan yang diharapkan

Tapi akan ku wujudkan harapanya

Aku memang bukan diimpikan

Tapi akan ku kabulkan impianya

Aku memang bukan tujuan

Tapi akan ku iringi sampai ke tujuanya


Meskipun tanpaku

Meskipun aku tak ada

Ataupun meski aku sudah terlalu tua


Ini persoalan rasa

Demi pengabdian cinta

Senin, 23 Oktober 2017

BAPAK, KAMI BUTUH ANDA

Oktober 23, 2017

Sumber: Halaman depan buku 30 tahun Indonesia Merdeka



Mahasiswa adalah sebutan bagi orang yang sedang menempuh pendidikan tinggi di sebuah perguruan tinggi yang terdiri atas sekolah tinggi, akademi, dan yang paling umum adalah universitas. Terdiri dari 2 suku kata yaitu maha dan siswa. 

Tapi menurutku, mahasiswa tak bisa didefinisikan, ia punya definisi sendiri untuk menentukan jatidirinya. 

Sekitar 2 bulan yang lalu saya membaca sebuah artikel yang inti dari isinya menyebutkan bahwa tidak bisa disangkal, Soeharto adalah orang yang menyatukan mahasiswa dari seluruh kalangan dan seluruh lapisan dalam satu tujuan, ya menjatuhkanya. 

Masa reformasi adalah masa dimana mahasiswa menjadi satu tanpa adanya arahan atau propaganda dari luar, disitu idealisme mahasiswa benar benar terlihat nyata. 

Artikel itu tentu saja benar dan tak bisa disangkal memang, dari sebelum Soeharto naik tahta, mahasiswa indonesia terasa terpecah dengan meletusnya peristiwa 66 yang memaksa Soekarno untuk mundur dari kursi presiden. Tetapi dalam kasus ini berbeda dari peristiwa mei 98, karena angkatan 66 terasa terpecah menjadi kubu pro pemerintah dan kontra pemerintah. Kebanyakan besar yang pro pemerintah adalah mahasiswa yang diberi jabatan di bawah payung kekuasaan Soekarno (Walau yang kontra nantinya juga diberi kursi di Orde Baru). 

Tetapi tetap saja, dua generasi ini adalah generasi terpandang, Angkatan 66’ dan Angkatan 98’. Generasi terpilih dari 2 mode zaman yang berbeda, dua rezim yang berbeda, dengan perbedaan penderitaan. Tetapi tetap satu tujuan. 

‘Memperingati’ 3 tahun masa kepemimpinan Jokowi-JK, mahasiswa memulai perayaanya untuk menagih apa yang sudah diperbuat, dan apa saja janji janji Jokowi-JK. Tetapi saya tidak akan membahas itu, karena mungkin tidak ada habisnya. Mungkin teman – teman bisa buka timeline Line saja untuk hal itu. Yang saya tekankan adalah bagaimana mahasiswa saat ini menanggapi hal itu?

Setelah kejadian ditangkapnya beberapa mahasiswa dalam unjuk rasa kemarin, timeline Line lalu ramai, ya ramai beragam opini beragam kritik dan beragam cangkeman. Persis seperti saat Ahok dipenjarakan. 

Ada yang beropini bahwa pergerakan mahasiswa saat ini adalah tidak murni 100% dari hati, menurut saya ini ada benarnya tetapi tidak mutlak benar. Ya kalau dipikir lagi memang seperti itu kenyataanya, sekarang coba dipikir anak muda jaman now yang setiap hari scroll instagram, titip absen kelas, menjadi agen perubahan, oke agen perubahan. Tetapi apakah semua itu atas dasar nurani dari dalam diri? Saya rasa tidak

Unjuk rasa dengan banyak ditunggangi oleh kepentingan – kepentingan pribadi diluar kepentingan bersama, kepentingan kelompok tertentu guna mendapat suatu kesuksesan dalam hal tertentu, mungkin saja?. 

Sedangkan satunya seperti antek pemerintah yang seakan – akan ternina bobokan dengan segala konspirasi media yang menghanyutkan seperti semua baik – baik saja. 

Mahasiswa belum merasakan penderitaan yang sama guna tujuan yang dituju sama. Kita butuh pemersatu mahasiswa yang seakan memberikan pelajaran hidup yang semua di semua lapisan agar hati itu terbuka dan idealisme murni terjadi. Idealisme seorang mahasiswa tentang apa itu kebenaran. 

Terimakasih Pak Soeharto, karena saya jadi tahu yang mana itu sungguh – sungguh dan yang mana yang sekedar disuruh. Asal Bapak Senang aja deh.







Malang, 24 Oktober 2017