Semoga kesehatan selalu berpihak kepadamuUntuk beberapa kesibukanmuYang mungkin berbeda dengan malam malam laluJuga tidak lupa untuk selalu bersujudMungkin aku Cuma bisa mendoakanAtas apa yang kau sebut perjuanganBahagiakan orang tua dan wujudkan impianTerbanglah terbangMasa kita masih jauhBukan saatnya untuk berlabuhDayunglah sampanmu sampai lelahAgar kau tau bahwa itu tak mudahAgar kau tahu nikmat akhir yang indahSemoga kesehatan selalu berpihak kepadamuUntuk beberapa kesibukanmuYang mungkin berbeda dengan malam malam laluDan agar kita mendapat akhir yang indah
Kamis, 13 Februari 2020
SEBAIT
Februari 13, 2020
New
Sabtu, 01 Februari 2020
BERKELANA
Februari 01, 2020
New
Sesungguhnya apa yang dicari manusia di dunia ini? Bahkan tiap tiap individu tak ada yang tau pasti apa yang dicari individu lainnya. Kemarin ngobrol sama Nadine masalah goals dalam hidup. Entah apa mungkin manusia menciptakan goals hanya untuk berambisi develops their life, ataupun ada yang memang mempertimbangkan banyak hal untuk kehidupan banyak orang, karena memang manusia tidak hidup sendiri dalam dunia ini.
Jadi tahu bahwa di dunia ada banyak
sekali jenis manusia dalam memaknai kehidupanya bakal berlangsung seperti apa,
ada yang beranggapan bahwa dalam hidupnya memang harus ada goals untuk dicapai
sebagai benang merah dan juga melahirkan cabang cabang tujuan kecil untuk membuat
tujuan itu tercapai, dari situ maka ia jadi tahu alasan dia hidup untuk apa,
dan apa yang akan dia kerjakan setiap harinya untuk membangun bagaimana goals
itu dapat terwujud, paling tidak mempercepat tujuan itu terealisasi. Cuman kadang
perlu takut dengan diri sendiri bahwa pemikiran itu dapat menciptakan bentuk
bentuk dari egoisme, memang kadang idealism, optimism dan egoism itu hanya
tersekat dinding tipis yangtak jarang bersingunggan, bertabrakan atau jenis
jenis lainnya.
Ada juga manusia yang hidupnya hanya
berorientasi pada apa yang dia kerjakan hari ini. Karena berpikiran bahwa
‘siapa saya berani menentukan apa goals dalam hidup saya sementara semesta
sudah mengarahkan’ mungkin agak berbeda dengan pandangan orang yang tadi tetapi
memang ada juga orang yang berpandangan seperti ini. Dalam hidupnya tak ada
tujuan jelas apa yang mau dicapainya, apa yang mau di achieve. Tetapi mungkin
dalam menjalani hidup akan lebih tidak memaksakan dirinya sendiri karena ia
mempertimbangkan banyak aspek untuk menjalani hidupnya hari ini. Tetapi yang
perlu ditakutkan dari orang jenis ini adalah mungkin besok di kemudian hari ia
akan hidup dengan beberapa manusia dan mana mungkin kehidupan manusia lainnya
dijadikan modal taruhan untuk kehidupanya, apakah cenderung menjadi egois juga?
Saya juga tidak tahu pasti.
Yang ketiga ada orang yang mungkin menggabungkan
2 prinsip tersebut, ia mempunyai goals, tetapi ia tidak punya keberanian untuk
berekspektasi pada goals itu sendiri, karena ya, ekspektasi beranak kembar
dengan kekecewaan. Semakin tinggi ekspektasi mungkin kekecewaaan yang mengikuti
pun akan berbanding lurus. Dan mungkin orang jenis ini adalah orang yang tak
ingin membebankan resiko pada perasaanya karena takut dikecewakan oleh semesta.
Mungkin juga karena apa yang pernah dia lalui di masa yang lalu.
Bukankah hidup ini terlalu singkat untuk didefinsikan dan di
deskirprisikan secara kontekstual? Tapi aku yakin setiap manusia punya definisi
atas hidupnya sendiri, perjalananya, jurusanya, dan juga bagaimana ia merawat
langkah demi langkah yang ia lalui, tiap detik ke menit berhari – hari, berbulan
bulan bertahun tahun. Hidup memang mungkin tak bisa didefinisikan tetapi ia
punya kerangka untuk menjelaskan bagaimana ini akan bermula, bagaimana
prosesnya berjalan dan bagaimana ini akan berakhir. Benang merah kehidupan
manusialah yang mentukan bagaimana hidupnya berjalan ke arah yang ia sudah
rencanakan sebelumnya.
Setiap rencana pasti punya bentuk
kontradiktifnya, ia adalah ketidakberhasilan rencana tersebut. Dalam memaknai
dan menjalani ada baiknya kita tetap hidup dalam batas batas bahwa kita bisa
saja tak berhasil untuk mencapai rencana itu. Mungkin beberapa orang dalam
kehidupan organisasi menyebutnya plan b atau c. sama saja pokoknya. Ya tujuanya
masih tetap sama, bahwa kekecewaan itu pasti berdasar pada ketidakberhasilan
dan menyebabkan penyakit. Ah, kenapa dari tadi aku serasa takut dengan
kekecewaan? Aku juga tak tahu pasti tentang ini apa dan bagaimana ini bisa
terbentuk di diriku. Mungkin saja karena beberapa hal yang pernah aku lalui
sebelumnya? Who knows. Kalo kata mas farid, berjalan tak sesuai rencana sudah
biasa, lebih baik jalani sepenuh hati untuk hari ini dan esok hari.
Semangat untuk semua orang orang yang
membaca tulisan ini, untuk orang orang yang ingin mengachieve sesuatu dalam
hidupnya, untuk siapapun yang ingin menggali potensi yang ada di dalam dirinya.
Dan semua mua yang menurut kalian adalah apa yang kalian stand for it. Ingat,
ketika kalian mulai lelah dengan hal yang kalian pilih dalam hidup ini, ingat
bagaimana itu bermula, dan bagaimana kalian bisa sejauh ini menjalaninya,
kalian sudah berlaku sebagai seorang yang keren! Cheers!
Bandung, 2 Februari 2019
Selasa, 10 Desember 2019
WONG JOWO
Desember 10, 2019
New
Tipikal orang jawa itu, memendam prasaan untuk menghargai perasaan orang lain. Dalam bukunya, mochtar lubis menyebutkan bahwa pendidikan orangtua jawa pada anaknya adalah untuk jangan menyakiti hati orang lain, berbeda dengan orangut eropa yang mengajarkan pada anaknya untuk berkata jujur. Dalam benak seseorang manusia, dua contoh pengajaran itu bisa saja beririsan tetapi banyak yang bertolak belakang, dalam artian seseorang yang menganut hidup untuk jangan menyakiti hati orang lain maka ia cenderung memilih jalan yang mudah untuk jangan berkata apapun pada lawan bicaranya sehingga tidak aka nada hati yang tersakiti. Tetapi mungkin bagi orang orang yang pandai dalam merangkai kata, ia akan memilih diksi yang tepat untuk memberitahu apa yang ingin dia benarkan dan apapun pendapat da nisi otak mereka kepada lawan bicaranya.
Ketika orang menyembunyikan perasaan
utnuk menjaga hati orang lain, maka ia akan mendapat hasil yang berlawanan pada
sisi lainya. Ini mungkin dapat di analogikan sebagai dua mata pisau, ketika kau
berani untuk mengambil jkeputusan untuk menjaga hati orang lain yang sedang kau
jaga, maka di sisi lain aka nada orang lain yang tersakiti dengan pilihanmu.
Berbeda dengan orang eropa yang
cenderung untuk berkara jujur apapun yang dia lihat dan apapun yang dia
rasakan, enak yang enak tidak enak ya tidak enak. Terlepas dari perasaan yang
akan diterima oleh lawan bicaranya. Maka jangan heran kalau dampak dari itu itu
semua terbentuk manusia eropa yang lebih mengandalkna logika dalam bicara
dibandingkan dengan perasaan. Bebred dengan orang jawa yang kebanyakan baper
atau bawa perasaan pada lawan bicarnya karena perkataan mereka yang tidak
mengenakkan hati
Aku tak tahu mana yang lebih baik,
tetapi semua dari itu memiliki nilai kurang dan lebihnya, mana yang lebih baik
akupun tak tahu.
Tapi akhir akhir ini au lihat
masyarakat yang lebih liberal menganut pemikiran yang lebih mengedepankan
logika, ketika itu terjadi pada suatu kelompok masyarakat maka tidak jarang ada
hati yang tidak siap dan cenderung tersakiti dengan adanya itu. Manusia manusia
yang belum siap dengan adanya perbedaan pemikiran. Juga sebalinya jika manusia
eropa yang cenderung menggunakan perasaan dalam bicara maka mungkin bagi
sebagia keoompok masyarakat yang lain itu adalah perkataan yang tak logis yang
dikeluarkan seseorang, satunya melibatkan hati satunya melibatkan otak.
16 Oktober 2019


