Senin, 26 September 2022

Pelajaran Tahun Ini

September 26, 2022

Biasanya kalau ulang tahun aku lumayan rajin menulis setiap tahunnya. Mengenai apa yang sedan dirasakan, apa yang sedang dijalani, atau apa yang ingin dikejar. Setiap tahun mengajarkan hal yang berbeda, hal yang harusnya bisa membuat kita lebih kuat. 


Awalnya aku tak percaya adanya quarter life crisis, walaupun sejatinya umur manusia tak bisa diprediksi tetapi permasalahan seperti yang terjadi nggak hanya untuk mereka yang berusia 22-25 tahun. 


Tapi setelah baca lagi sebenarnya cukup masuk akal. Ketika orang dihadapkan pada kondisi yang sudah terbangun oleh hegemoni budaya terhadap usia manusia. Babak babak pada manusia yang telah tertanam pada setiap kepala, membuat bubble pada pandangan orang terhadap orang lain. 


Beberapa tahun lalu aku tidak terlalu menganggap ulang tahun sebagai hal yang sakral, yaudah aja gitu. Tetapi semakin kesini, rasa-rasanya memasuki babak baru menjadikan kita lebih bersyukur atas apa yang terjadi selama setahun ke belakang. 


Segala permasalahan dari karir hingga cinta, selalu menguatkan dan semoga menguatkan setiap tahunnya. 


Tahun ini lumayan complicated, bergolak perasaan pada diri sendiri atas apa yang telah diperjuangkan terhadap yang didapatkan. Ketakutan akan suatu hal yang membuat tidak bisa bergerak, sangat menjengkelkan. 


Aku tak tahu jawaban yang pasti. Penyesalan juga pasti terjadi, tetapi yang perlu diingat, minimalkan penyesalan dengan segala upaya-upaya baik yang kau berikan untuk orang lain. Cukup menjadi baik, cukup kontrol apa yang bisa dikontrol, karena perasaan orang lain tak bisa dikontrol.


Jakarta, 26 September 2022

Sabtu, 10 September 2022

Memastikan Jalan

September 10, 2022

Tak perlu aksi, aku hanya ingin melihat. Memastikan semua baik-baik saja. Memastikan kedepannya akan aman terkendali.


Sebagai manusia yang penuh gengsi, apalagi sebagai Asian people, rasa sayang tidak serta merta selalu di’aksi’kan, tak pernah diutarakan. Tapi yang perlu diketahui, bahwa aku selalu ingin melihat dan memastikan semua baik-baik saja. Berusaha untuk menjadikan masa depan lebih terkendali, menjadikan hal yang sebelumnya belum pernah terpikirkan menjadi terwujudkan. 


Jakarta, 10 September 2022

Kamis, 08 September 2022

Kenyataan Itu Dekat

September 08, 2022

Mengumpat dengan segala pisuhan untuk mereka di luar sana.

Memuji dengan penuh kasih teruntuk di seberang sana

Marah atas hal yang terjadi jauh disana

Membela untuk mereka yang bahkan tidak tahu rupanya.

 

Disruptive social media membuat kita tau segala hal, informasi atau kabar yang beredar dengan sangat cepat. Mengubah budaya berinteraksi dengan orang. Segala data, informasi, berita, pujian, cacian atau bahkan hoaks terscan di mata kita, melalui layar di genggaman tangan.


Beberapa diantaranya sesuai dengan pemikiran, beberapa lagi yang berseberangan dengan prinsip. Kita ‘stand for’ untuk mereka yang bahkan tak kita kenal, kita against untuk mereka yang bahkan tak pernah bertemu.


Tidak semuanya, tetapi kadang beberapa hal tidak menyinggung kita, beberapa hal tidak mengganggu keseharian kita. Tetapi yang pasti, selalu ada reaksi atasnya. Reaksi untuk sesuatu yang jauh, reaksi yang menguras energi, reaksi yang harusnya bisa kita manfaatkan untuk hal yang lebih ‘nyata’ di sekitar kita.


Kadang kita terlalu menghakimi yang jauh, ketimbang peduli dengan yang dekat.

 

Jakarta, 9 September 2022


Sabtu, 03 September 2022

Muara Tak Harus Sama

September 03, 2022

Lalu di bagian mana desa harus mengikuti kota?


Walaupun sepanjang hidupku dihabiskan di kota, sebuah kota kecil dengan tagline ‘Istimewa’, seperti Bandung dengan ungkapan “Bumi pasundan tercipta ketika tuhan sedang tersenyum”, kota ini juga punya ungkapan yang cukup terkenal "Yogya terbuat dari rindu, pulang, dan angkringan."


Desa bukan hal yang jarang -  jarang amat bagiku, walaupun hanya beberapa kali setahun, menjenguk simbah di desa, tetapi keberadaannya sungguh merupakan suatu hal yang berbeda dan tak haruslah dia menjadi kota. Desa berkembang dengan sendirinya, dengan masih menjunjung "Rumangsa melu handarbeni" yang berarti merasa ikut memiliki, apapun yang terlihat mata. Masih kuat mengakar filosofi dan kearifan yang terawat baik antar orang-orangnya. Apalagi interaksi antara manusia dan tempat tinggalnya, alam. 


Tidak ada yang spesial dari kota besar, dari gedung tinggi dan megah, dengan lalu lintas yang semrawut, mobilitas tinggi dan banyak hal yang berbeda. Saya garis bawahi, berbeda bukan berarti lebih bagus. Modern tidak selamanya menjadi yang utama. Tujuan kita tak mesti sama.