Selasa, 10 Desember 2019

BABAK BARU KEPALA 2

Desember 10, 2019



Usia 21.
Mulai banyak berkompromi dengan banyak hal, dengan segala yang dijalani dalam kehidupan, dalam setiap keputusan yang di ambil dan juga tentunya resiku yang bakal diterima.
Mulai malu dengan apa yang seharusnya tak dapat diminta lagi, dengan segala hal yang menurutku abu abu dalam hubungan anak-orangtua. Padahal mestinya itu masih menjadi tanggung jawab orang tua, mau setua apapun, orangtua akan tetap merasa bertanggun jawab pada anaknya.
Beberapa bulan yang lalu saya melihat video, kakek – kakek yang melanggar batas maksimum kecepatan berkendara, ketika hakim bertanya kenapa melanggar lalu lintas sang kakek menjawab bahwa biasanya ia tidak berkendara secepat itu tetapi pada hari itu sang kakek baru mengantar anaknya untuk cuci darah karena anaknya menderita kanker. Ia ditanya lagi berapa umurnya oleh sang hakim, kalau tidak salah berumur 90 tahun dan anaknya berumur 60 tahun. Akhirnya hakim memvonis bahwa sang kakek diampuni dengan mata yang berkaca melihat perjuangan seorang orangtua.
Pernah nggak sih kalian mikir bahwa ‘kita’ ini, mungkin yang sekarang berusia sama denganku bahwa kita ini sudah dewasa, rasanya pengen sekali ngomong dengan orangtua bahwa ‘aku ki wes gede, wes iso mbedakke endi sing bener endi sing salah, endi sing apik endi sing elek’ tapi ternayata belum sempat aku daridulu bialgn begitu aku sudah menemukan jawabanya bahwa ya memang setua apapun kita, seberapa besar kita, anggapan orangtua masih akan tetap sama, kita hanyalah seorang anak kecil yang daridulu dirawat dengan penuh pengorbanan orangtua. Mereka akan tertus menganggap kita seorang yang manja seperti saat kecil kita selalu merengek ketika menginginkan seuatu.
Aku belum menjadi orangtua, tapi rasanya terasa sedih dan juga senang sih melihat anak tumbuh dan berkembang, rasanya besok ketika aku sudah punya anak, aku tidak akan melewatkan masa kecilnya. Kata teman saya ‘golden age’ anak itu 5 tahun pertama, dan itu adalah sifat yang akan dibawanya selalgi tumbuh dewasa. Selebihnya ia dibentuk oleh lingkunganya.
Di umur ini juga sudah mengurangi mencitpakan romantisme pada suatu hal, mulai melihat rasionalitas, tapi aku kira lebih ke ‘has luweh’
Quarter life crisis?
Hm, entah apa yang kurasakan saaat ini adalah quarter life cisys apa bukan, mulai dari menentukan pilihan pun sudah agak menimbang dan berikir ke depan lagi, tidak mau merasa buang buang waktu untuk hal yang tidak berguna dan menghasilkan. Terlebih lagi dalam cinta, entah kenapa tidak ada urgensitas untuk mencari pasangan, walaupun kadang juga timbul keinginan, tapi tidak lama. Intinya belum ada tujuan yang jelas sampai belum bisa menetukan apa porses yang harus diambil. Semoga saja segera tercerahkan.
Aku selalu suka September dan 1998, entah mengapa merasa beruntung dapat lahir dalam saat saat bersejarah. Dan di usia kali ini, terulang lagi peristiwa seperti dulu, walau tidak sepenuhnya sama.
·       23 september kemarin mulai pergerakan #gejayanmemanggil dan aksi aksi mahasiswa di kota lain yang menuntung tentang ruukuhp dan ruu kpk, detailnya tidak paham pokoknya gitu deh.
·       24 september, mulai pada away ke senayan semua lapis mahasiswa dari berbagai kampus.
·       25 september, gentian cah cah smk Jakarta all base cuk po ra sangar,
Lumayan beberapa hari ini emang kondisi ibu pertiwi campur aduk, papua memanas, Sumatra & Kalimantan terbakar,
Aku selalu percaya bahwa hubungan itu dipupuk mbok sithik, timik timik waton kelakon. Waktu yang menjadikanya abadi bukan materi atau hal dunia materialis lainnya.
Dan kalo kata mbah tedjo, puncak cinta antar 2 orang adalah ketika ia tidak saling bertemu, tidak saling berkomunikasi, tetapi saling mendoakan satu sama lannya. 

 28 September 2019


Minggu, 15 September 2019

NRIMO

September 15, 2019


 
Semakin dewasa semakin menemui realita yang dari dulu tersebut – sebut. “kita tidak bisa memahami orang lain”
Semakin kesini semakin bertemu dengan banyak orang yang berbeda tingkah laku, berbeda sifat dan sikap. Berbeda sudut pandang dan pola pikir.
Harus selalu menyadari bahwa kapasitas kita sebagai bagian dari suatu masyarakat sama halnya atau sama derajatnya dengan manusia lain, bukan tendensi yang harus kita besarkan,tapi hati yang harus selalu menerima apa yang ada.

MATINYA PERASAAN

September 15, 2019



Lalu menurutmu lebih menyakitkan mana, kehilangan nyawa atau tidak hidup di dalamnya. Dalam artian ini saya mencoba membandingkan dalam dua hal entah itu akan menjadi perbandingan yang seimbang atau tidak, kita lihat nanti dan anda nilai kemudian.
Menurutku tiada yang lebih kuat daripada orang ang kehilangan nyawa salah seorang terpenting dalam hidupnya. Tetapi, bagaimana dengan orang yang sejak awal memang tidak berada pada kehidupan dengan konsep itu? Saya ambil contoh begini, lebih menyakitkan mana orang yang kehilangan orang tuanya dalam artian meninggal, atau orang yang sudah sejak lahir sudah tidak hidup dalam konsep keluarga yang terdiri dari susunan ayah,ibu dan anak. Mungkin hanya ibu dan anak atau ayah dengan anaknya.
Bulan juli ini mendengar kbr duka dari 2 orang yang dekat denganku, pak singgih, guru olahraga smaku yang juga kesiswaan yang artianya dekat dengan anak anak sekolah, Pakdhe Nurto yang adalah kakak dari ibuk
Dalam 2 peristiwa itu saya melihat kesedihan yang begitu mendalam bagi orang orang yang setip hari berdekatan hidupnya dengan almarhum. Saya yang termasuk orang perasa jadi iku mengalami dalam suasana haru tersebut, tetapi dari situ saya mulai berfikir, apakah kesedihan ini tidak/lebih mendalam dari kesedihan orang orang yang sejak lahir sudah tidak mengenal konsep keluarga? Yang sejak lahir sudah dalam konsidi tidak ‘normal’?
Saya menyimpulkan tetapi ini hanya pandangan saya yang tidak merasakan apapun itu. Oke kita mulai, orang yang sudah tidak mempunyai ‘sesuatu’ pastinya tidak akan lebih sedih dari pada orang yang ‘kehilangan’ sesuatu. Iya menurut saya secara kasar seperti itu, tetapi orang yang sudah tidak mempunya ‘sesuatu’ itu jauh lebih dalam suasana sedih ketika berada pada lingkungan kepunyaan. Saya analogikan hal itu seperti ini’ orang yang tidak brada pada konsep keluarga yang utuh itu akan lebih dalam kondisi kesedihan ketika berada pada perkumpulan teman temanya yang mempunyai kelouarga. 
Ini belum akhir dari pemikiran saya tetapi entah kenapa saya ingin berhenti membahasa ini karena saya tidak termasuk dalam dua kondisi tersebut saya takut hanya menjadi judgement saya kepada orang orang yang merasakan kerasnya survive dalam dunia itu.
Tetapi yang pasti menurut saya, entah itu orang dalam kondisi pertama maupun kondisi kedua sama sama orang – orang yang kuat dalam menghadapi dan menyikapi itu, saya sendiri entah apa bisa sekuat dan setenang mereka, khususnya teman teman saya yang berada kondisi itu.  

KALAH DALAM PUASA

September 15, 2019




Bagiku puasa bukan hanya sekedar menahan lapar dan haus. Terlebih dalam nafsu, ia menahan apa yang terjadi pada akibat yang ditimbulkan nafsu itu sendiri. Sayangnya, orang – orang berduyun duyun terikat dengan puasa hanya pada 30 hari pada bulan suci itu. Padahal sejatinya puasa ada dalam setiap sendi kehidupan bersifat general dan selamanya.
Dimulai dari imsak sampai maghrib, tetapi menurutku puasa berawal dari lahir, sampai mati di dunia. Ia adalah penyatuan jiwa dengan alamnya. Dalam artian menahan, ia sebenarnya bisa saja dilakukan, tetapi kata menahan mempunyai artian yang lebih dalam. Merendahkan ego dan mendahulukan yang lain, iya. Menurutku puasa ada dalam setiap hal yang dialami manusia. Kalau orang – orang sudah dapat memahami apa arti puasa sebenarnya, maka mungkin di dunia ini tidak akan ada koruptor, perampok, ataupun orang suci yang memberi gelar sendiri.
‘Menahan dan mengendalikan’ mungkin bukanlah suatu kalimat yang memiliki makna yang dalam, tetapi butuh effort lebih untuk melaksanakan. Hidup ini bukanlah sekedar melahap dan menghabiskan, dalam penglihatan secara jiwa, menurutku hidup harus dalam taraf seimbang. Menahan dan mengendalikan apa yang bisa dilakukan menurutku adalah hal yang lebih utama. Ini bukan persoalan kalah dan menang, karena jika hidup hanya terbatas oleh 2 hal itu maka hanya ada hitam dan putih, bukan hanya benar dan salah karena mengalah dan dikalahkan adalah jalan terbaik untuk kemenangan, menempatkan harga diri di atas parameter capaian menjadikan ia tak mudah disentuh, apalagi dikalahkan oleh seorang pun. Dan bukanlah kemenangan yang ingin kita dapatkan, melainkan kehidupan yng mulia untuk sesama dan tuhanya, untuk kembali kepadaNya dalam bentuk yang sebaik baiknya
Puasa bukan sekedar kemenangan pada apa yang bisa dilakukan, padanya kita bersembah bahwa pengendalian terbaik adalah dapat menahan pada apa yang dunia tawarkan padamu, pada setiap nafsu yang ia gambarkan di depan matamu, pada setiap harumnya yang ia jejalkan di penghujung hidungmu. Maka jika puasa hanya sekedar kemenangan, maka tak salah jika egoisme menjadi senjata utama pada penutupan warung makan dan lain sebagainya.
Puasa adalah bentuk keromantisan antara hamba dengan tuhannya, ia hanya diketahui oleh pencipta dan tercipta karena kebenaran dunia adalah hal yang relatif dan kebenaran akhirat adalah mutlak. Dalam hal ibadah, tak ada yang bisa menilai tingkat puasa seseorang, Antara murid dunia dengan murid lainnya, ia hanya bisa dinilai oleh ‘guru’nya, dalam hal ini adalah ia, sang maha pemberi nilai pada rapor pertanggungjawaban manusia atas apa yang dikerjakanya di sekolah bernama dunia, semasa hidupnya. Semoga semua makhluk berbahagia.