Minggu, 07 Mei 2017

ZAMAN BATU

Mei 07, 2017

(Throwback ; lempar balik)

Mungkin ini bisa dibilang curahan hati. Karena beberapa hari yang lalu saya jadi kepikiran. Akhir akhir ini banyak guru yang dilaporkan siswanya sendiri telah melakukan bentuk bentuk kejahatan fisik. Yang mungkin semua sebenarnya ada tujuanya. Entah itu salah bapak/ibu guru atau siswanya yang memang manja.

Sebenarnya hal itu juga saya alami sewaktu masih duduk di sekolah dasar. Entah saat itu saya yang cuek atau saya memang pemberani. Hahaha. Tapi waktu itu memang tidak ada kasus seperti dewasa ini.

Saya masuk sekolah dasar pada tahun 2005 kalau tidak salah. Saya masuk di SD Pujokusuman 1 Yogyakarta, tempatnya di jalan Kolonel Sugiyono no.9. Kalau dari pojok beteng wetan ke timur beberapa ratus meter, di utara jalan ada SD yang halamanya luas. Sebuah SD yang tergolong tua dengan bangunan kunonya. Memang SD Pujokusuman 1 itu bekas SD IKIP (kalau tidak salah).

    · Kelas 1
Masuk SD di kelas 1 bertemu dengan guru kelas, beliau bernama Ibu Ani, suaranya keras menggelegar dan suka bentak bentak, orangnya tegas dan disiplin. Dengan rambut yang sudah memutih memanjang sampai di atas bahu. Matanya memancarkan aura ketegasan walau hatinya masih tetap mengayomi anak baru yang masih ditunggu orangtua dan kadang pipis di celana.

    · Kelas 2
Ini adalah masa ter-aneh dalam dunia pendidikan menurut saya. SD saya terletak di dekat pasar Pujokusuman. Ibu guru kelas 2 bernama Ibu Djumiyem. Bu Djum lebih santai daripada Bu Ani yang kerap mondar – mandir di kelas sambil berbicara dengan lantang, beliau lebih suka duduk di kursi guru dan membaca untuk anak – anak. Tetapi beliau punya tugas berat bagi beberapa ‘orang orang terpilih’nya. Beliau sering menyuruh siswa kelas 2 SD, kelas 2 SD. Untuk belanja di pasar. Siswa nanti diberi catatan apa yang harus dibeli dan dibekali uang. Memang lucu.

    · Kelas 3
Kelas 3 di SD ini kami seangkatan bertemu dengan Bapak Ngatijo. Beliau juga tergolong sudah berumur dengan rambut yang sudah memutih dan sudah jarang. Beliau paling tidak suka dengan ketidakrapian. Apalagi masalah rambut. Siswa yang tidak rapi pasti berurusan dengan beliau, contohnya saya. Kelas 3 SD rambut saya terlalu panjang melebihi batas normal. Ya hukumanya memang tidak dipotong, tetapi di’jenggit’ di bagia godek (bahasa indonesiane opoyo). Sumpah ini adalah hukuman terberat dan tak kenal ampun, sampai anak yang dijenggit itu menangis baru selesai. Ya hasilnya bisa merah lebam yang tak kunjung hilang 2 hari.

    · Kelas 4
Pak Endarto, guru kelas 4. Sudah terkenal galaknya. Waktu saya masih kelas 1-3 kakak kelas sudah banyak yang menceritakan. Perawakanya necis. Dengan kumis tebal, kulitnya putih. Badan tinggi. Dan celananya cutbray. Beliau paling tidak suka dengan keramaian. Tipe mengajarnya dengan membawa penggaris kayu 1 meter di tanganya. Dengan sesekali memukul meja dengan penggaris itu. Sungguh itu adalah peringatan yang nyata. “jeblarr”. Gaman pembantunya adalah penghapus papan tulis kapur yang terbuat dari kayu. Yang digunakan tidak untuk menghapus. Tetapi lebih sering melayang – layang di kelas. Siswa yang rame dipojokan sering kena ‘bandem’ penghapus dari pojokan meja guru.

Kelas 5 & 6 lebih santai karena memang harus mengejar untuk ujian.

Ya begitulah. Mungkin teman – teman ada yang merasakan ada juga yang tidak. Intinya perbedaan zaman telah mengubah sistem pendidikan saat ini. Tetapi beruntunglah saya karena masih bisa merasakan zaman paleolithikum itu. Dimana gadget tak ada di genggaman. Sadar tak sadar telah memberikan dampak bagi kehidupan saya.

Dan saya sangat berterimakasih kepada guru – guru saya yang telah mengajarkan apa itu kebenaran dan kebaikan. Semoga menjadi amal jariyah untuk bapak dan ibu guru.


Yogyakarta, 7 Mei 2017

Jumat, 21 April 2017

Generasi Bingung

April 21, 2017




Sebentar lagi saya lulus dari bumi Teladan ini. Kampus cemara yang kami cintai dan banggakan. 2014-2017 adalah masa saya di bumi Teladan ini. Dimana menurut saya adalah saat generasi diantara dua sejarah. Generasi yang memikul kewajiban. Generasi yang penuh akan kontradiksi dan segala jenis propagandis.

Tahun – tahun ini dimana masa kami untuk mempertanggungjawabnkan apa yang sudah berlalu. Untuk menumpuk dan menjadi satu untuk dipikul. Kami yang bersekolah pada tahun tahun ini telah dimasuki oleh 2 sejarah yang kontras. Yang pertama adalah generasi sebelum millenium, generasi Teladan yang penuh akan prestasi. Menunjukkan akan ke-Teladananya karena prestasi dalam bidang akademik maupun non-akademik. Generasi yang tersohor di kalangan akan kesantunanya dalam masyarakat, karena itu, generasi ini disebut Teladan. Yang kedua adalah generasi awal millenium. Generasi ini lebih mendekat pada keunggulanya dalam bidang akhlak. Generasi yang sempurna dengan akhlak sebagai pondasinya dan Allah sebagai penolongnya. 

Sedangkan tahun – tahunku, adalah tahun transisi yang entah mau kemana tujuanya. Tahun – tahunku dihadapkan pada dua sejarah yang kontras. Tahun – tahun ini adalah tahun generasi dengan kontradiksi akan keyakinan dari dua sejarah itu. Generasiku adalah generasi frustasi, generasiku adalah generasi bingung yang akan membawa kapal ini ke salah satu dari dua pulau itu ataukah mencari pulau sendiri.

Selang beberapa tahun dari awal millenium juga kebijakan pemerintah tidak boleh mengambil guru secara sesuak hati. Sebelum itu memang guru – guru Teladan adalah guru – guru panggilan yang dirasa mempunyai integritas tinggi dan dirasa dapat memajukan siswa SMA 1. Itu pula yang menurut saya meng-akhiri era kejayaan SMA ini. Dan menurut perhitungan dari tahun – tahun itu, maka tahun – tahunku adalah saatnya bapak ibu guru itu pensiun. 

Tahun – tahunku adalah tahun – tahun penuh tak keterimaan atas tindakan sekolah kepada siswa. Maka dari itu pula akibatnya tahun – tahunku adalah tahun tahun penentangan dan tahun – tahun pembelaan dengan membandingkan dengan “Teladan dulu” yang bahkan belum pernah dilalui. Generasi ini adalah generasi kolot. Generasi kolot dengan tidak setuju, penentangan, dan ketidak terimaan dengan apa yang tidak dirasa menguntungkan saja. Yang memperjuangkan apa yang tidak dirasa pas. Mungkin bisa saja disebut egois. Ya. 

Ya semua itu lumrah terjadi karena memang kebijakan sekolah yang saya rasa hanya tindakan yang cari aman (?). Saya analogikan misal gerak siswa adalah air. Kebijakan adalah tanggul. Untuk menghentikan gerak air, hanya dibangun tanggul di depan air itu akan melaju. Itu sama saja tidak akan menghentikan air tapi hanya akan mengubah arah air. Seharusnya dibuat tanggul disekitar gerak air agar tujuan dari air itu jelas. 

Tapi yang pasti, Teladan adalah sebaik – baiknya sekolah untuk berubah menjadi lebih baik. Tetapi, sekolah ini bukanlah tempat untuk merubah seseorang. Bukan. Sekolah ini adalah tempat dimana kebenaran diajarkan. Kebenaran yang diterapkan dalam kehidupan. Semua siswa mendapat itu. Sekali lagi, Teladan bukanlah tempat untuk merubah seseorang. Tetapi tempat dimana semua kebenaran dan kebaikan diajarkan. Terserah orang itu mau memilih jalan yang mana. Ia pasti akan tahu. Mana yang baik dan mana yang benar.

Yogyakarta,18 April 2017

Minggu, 09 April 2017

Hari - Hari Terakhir (1)

April 09, 2017

Sudah kubilang pakailah jaketku ini, Shabrina. Hujan deras mengguyur jalanan dan kesedihan yang tersimpan di dalamnya.

Akhir – akhir ini Shabrina memintaku untuk menemaninya setiap waktu. Tidak seperti dia, batinku. Biasanya dia cuek dan enggan bertemu untuk hal yang kurang penting. Hari ini Shabrina mengajakku ke rumah sakit di kotaku. Ia bilang dia ingin sekali melihat bayi – bayi mungil nan lucu di rumah sakit. Itu mengingatkanya saat kelahiranya dan sekaligus kehilangan ibunda tercinta yang bahkan belum  pernah dilihatnya. Kunjungan kami waktu itu ditutup dengan kalimatnya yang puitis “kelahiran akan selalu dinantikan dan Ibu akan selalu mengupayakan. Walaupun nyawa taruhan”

Hari ini aku menemukan seberkas map besar hasil lab Shabrina. Rupanya ia menyembunyikan ini dariku. Betapa terkejutnya aku karena apa yang kulihat ini. Entah berapa lama lagi ia dapat berada disisiku. 

 Yogyakarta, 9 April 2017

Sabtu, 12 November 2016

MENCARI ARTI DIRI

November 12, 2016





Ada kalanya kita perlu berjalan sendiri, hanya sendiri dan tanpa seorang yang kita kenal. Memahami bagaimana bentuk manusia, bagaimana sifat manusia, bagaimana ketamakanya, dan sifat buruk di dirinya. 

Kita perlu sendiri untuk beberapa hal. Agar dapat memahami bagaimana sifat asli kita, naluri kita, dan segala sesuatunya. Apakah kita berguna bagi orang lain, apakah kita bisa hidup tanpa orang lain, apakah arti sebenarnya dalam bersosial.

Sore itu saya coba untuk sedikit menyusuri kehidupan keraimaian. Sambil makan ice cream cone, duduk termenung di pinggiran jalan, emperan toko. Tiba tiba ada seorang pemuda kira – kira 20 tahun. Bukan terlihat seperti pengamen tetapi dia mengamen. Oke, ia membawakan 2 lagu, setelah lagu pertama, orang – orang yang sama duduk seperti saya di emperan toko memberinya uang. Yang saya lihat dari gaya mengamenya adalah dia dapat membawa suasana orang – orang yang duduk di emperan yang hanya bermandangkan jalanan. Setelah itu ia membawakan lagu kedua, lagu kedua ini adalah lagu daerah, sepertinya daerah timur. Dari situ saya menyadari bahwa pemuda yang mengamen di depan saya menurut tafsiran saya adalah perantau yang datang ke jogja untuk melanjutkan studinya tetapi mengamen untuk mencari tambahan uang. Saya hargai perjuanganya.

Keluar dari cerita di atas, di tengah pemuda tadi membawakan lagunya, datang sepasang, entah sepasang atau bukan, pemuda –pemudi. Sepertinya seorang yang memadu kasih,mereka membeli 2 ice cream cone. Dan sama, duduk di emperan toko, yang laki laki dengan topping strawberry dan yang perempuan toppping coklat. Baru mereka duduk, sang pemudi mengeluarkan handphone, menyuruh si pemuda mendekatkan ice cream bersama, dan memotretnya. Oke update. Hampir habis, kertas yang menempel di cone mereka buang begitu saja, mereka buang. Dalam hati saya ingin menegurnya sungguh saya punya impian untuk mempermalukan orang dengan sifat buruknya, setelah bertanya pada diri sendiri, ternyata saya belum cukup punya keberanian. Si pemuda pergi lalu kembali membawa sebotol minuman air mineral dingin, untuk wanitanya. 

Datang seorang pengamen sungguhan, sama duduknya dan melihat saya saat melakukan aksi penghargaan untuk pemuda pengamen tadi. Dalam dunia pengamen memang keras, jalur dan spot pengamen itu sudah ditentukan, dan jika pengamen setelahnya sudah datang, maka pengamen lama harus segera berganti dan pergi. Si pemuda pengamen tadi selesai membawakan dua lagu dan lalu berbincang – bincang dengan sang pengamen. Dari segi bahasanya, si pemuda sebenarnya tidak kenal dengan si pengamen.
Adzan maghrib berkumandang, mungkin sudah waktunya untuk pergi. Kembali aku masuk lift untuk turun ke parkiran motorku, di dalam lift kujumpai bapak satpam yang sama seperti aku datang tadi, dan kulihat ada bangku di siku lift. Beliau menanyaiku akan ke lantai berapa. Oke kusimpulkan bahwa bapak ini adalah si penunggu lift. 

Sesungguhnya dalam hidup ini ada hal – hal kecil yang bisa kita ambil dan jadikan pelajaran. Namun kadang kita acuh dengan hal itu. Kita terlalu sombong untuk menilai diri kita sendiri, merasa bahwa hidup kita sudah benar dan tidak pernah bersyukur.  Dengan sedikit saja waktu yang kita ambil ada banyak cerita di dalamnya kalau kita mau mendengar, mau merasa dan mau memahaminya. Si pemuda pengamen yang kurang uang mungkin untuk hidup di tanah rantauan, melanjutkan studi untuk lebih dari saudaranya, untuk bisa membanggakan mamaknya, terlalu enggan untuk meminta kiriman uang. Mencoba mengamen untuk mendapat tambahan dan tidak menyusahan orang tua. Semoga segera dilancarkan urusanya.

Walaupun si pemuda dan pemudi tadi buang sampah sembarangan dan suka update, tetapi kasih mereka tak terpisahkan, hanya dengan sebotol air mineral dingin si pemuda menunjukkan kasih romatisme pada si pemudi, hal kecil namun berarti. Semoga cinta mereka abadi
Dengan duduk dan udud, si pengamen senior melihat si pemuda mungkin mengambil wilayahnya, daeorang operasinya. Tetapi dengan sifat rendah hati si pemuda yang walaupun tak kenal, hanya dengan sedikit percakapan hilang prasangka buruk si pengamen. Rejeki sudah ada yang mengatur, semoga dilancarkan rejekinya.

Hanya berdiri sepanjang hari, menekan tombol dan menanyakan tujuan kepada pengunjung. Terlihat membosankan dan melelahkan. Tapi apa daya tak ada ijazah untuk dapat menjadi direktur, sifat andhap ashornya mengajari kita semua untuk selalu bersyukur atas apa yang telah diberikan. Bapak ini, ditunggu istri dan anak di rumah. Mencari nafkah memang suatu kewajiban lelaki yang sudah berkeluarga. Semoga dilancarkan rejekinya dan diberi kesehatan. 

Hal – hal kecil memang sepele, tetapi mengajarkan kita untuk membuat hal besar. Selalu memahami hal kecil dan melihat dari sudut pandang lain. Semoga pelajar hidup mengajari kita untuk menjadi seorang manusia yang sebenarnya. Manusia yang tidak mementingkan diri sendiri. Menjadikan terlalu sombong untuk tunduk ke bawah dan selalu menengadah. Aamiin.

Rabu, 09 November 2016

Democracy talks

November 09, 2016



Demokrasi memang seharusnya begini. Jangan salahkan jika hasil yang berbeda adalah sebuah kesalahan. Bukan. Demokrasi adalah sifat dasar dalam batin manusia, bukan akal/pikiran. Ketidaksempurnaan demokrasi adalah ia membenarkan hal yang bukan seharusnya benar.

Dalam konteks ini saya jelaskan maksudnya, Demokrasi adalah bentuk hak suara atas banyaknya orang yang memilih entah dari background apapun. Kalau seseorang sudah memilih, ia sudah dianggap menghasilkan satu suara. Dan dalam pengartianya, suara itu bisa saja salah bisa saja benar. Berbeda jika, seseorang dalam background yang mendukung, membahas masalah tentang hal yang dikuasainya, itu pasti benar. Tetapi itu bukan demokrasi. 

Sebagai contoh kasus pertama, sekumpulan pedagang (semua bidang) membahas tentang kebutuhan bakso yang meningkat, semua memberikan suara meskipun ia adalah penjual mainan. Setidaknya ia memiliki yang selanjutnya disebut suara. Entah ia paham tentang bakso maupun tidak yang penting ia sudah mengeluarkan satu suara. 

Kasus kedua, sekumpulan pedagang bakso membahas tentang kebutuhan bakso yang meningkat. Disini akal dan pikiran sudah bekerja, karena ini adalah bidang dari background yang ditekuninya. Segala bentuk kekurangan/kelebihan sudah diperkirakan dan diperhitungkan. 

Sekarang jika contoh itu digabung dan menjadi, 1/5 pedagang adalah pedagan bakso, 4/5 bukan pedagang bakso. Untuk menghadapai masalah dalam negara demokrasi, semua pedagang memiliki hak suara dan pemenangnya adalah mereka yang kontra dengan kebijakan si pedagang bakso. 

Maka bisa diartikan, dalam negara demokrasi, sebuah keputusan yang sudah tercapai adalah benar dalam kasus demokrasi, tetapi salah dalam dampak kelebihan/kekuranganya. 


Yogyakarta, 9 November 2016

Senin, 26 September 2016

Mampir Ngombe!

September 26, 2016

Waktu berlalu. Semakin panjang semakin mendalam. Hidup ini bukan sekedar permainan. Bukan sekedar candaan atau bualan. Hidup ini adalah lapangan, lapangan tempat menimba segala hal baik, segala bekal untuk masa depan. Hidup ini adalah kesempatan, kesempatan untuk menjadikannya bermanfaat untuk siapapun. Hidup ini adalah tantangan, tantangan untuk terus melangkah mancapai tujuan yang hakiki. Ringkasnya, hidup ini pelajaran, yang harus dipelajari dari lahir sampai mati. Ilmu duniawi untuk mencapai kesejahteraan illahi.

Hidup ini luas, tapi mempunyai jangka yang pendek. Hidup ini indah, tapi hanya untuk sementara. Hidup ini harta, tapi tak dibawa mati. Hari ini genap umurku 18 tahun. 18 tahun lalu, 26 September 1998, beberapa bulan setelah keruntuhan Orde Baru, Habisnya Rezim Soeharto, Allah mencapkan jiwa ke dalam tubuhku, untk diamanahi menjadi manusia di dalam jalanNya. Renungan selalu menjajaki pikiranku, batinku terkoyak, jiwaku meracau. Apa yang sudah kujalani selama ini. Hanya ada kesenangan duniawi, penuh hasrat dalam hati yang sungguh tak berarti. 

Sudah kujalani semua dengan kesungguhan hati, dengan penuh tangguh jawab. Pendidikan yang telah diberikan orangtua, masyarakat dan sekolah sungguh telah membentuk kepribadianku. Agama telah meracuni jiwaku, ilmu telah mengendap ke dalam otakku, dan keberanian telah mengalir di dalam darahku. Lalu, apakah tujuan aku dilahirkan ke dunia ini sudah kujalankan dengan baik? Sungguh belum.


وَمَا هَٰذِهِ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا لَهْوٌ وَلَعِبٌ ۚ وَإِنَّ الدَّارَ الْآخِرَةَ لَهِيَ الْحَيَوَانُ ۚ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ
Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui.” (QS Al-‘Ankabut: 64).

Minggu, 25 September 2016

Bergerak Berdikari!

September 25, 2016
Kamu
Dengar suaraku?
Dengar suara kami?
Kecemasan kami
Kegundahan kami
Keraguan kami padamu.
Keputusanmu itu
Mengundang reaksi kami
Memutar logika kami
Kebutaan akan kesewenangan
Ketidakpastian harapan
Ketakutan pikiran
Ide kami bermekaran
Jiwa kami bergerilya
Mulut kami bersuara
Orang kami bergerak
Pasukan kami bertindak
Untuk sebuah pengakuan
Akan tuntutan.

Kamis, 03 Maret 2016

Salam dari Pattimura sampai Soekarno - Hatta

Maret 03, 2016
Mungkin sekarang belum saatnya
Mungkin juga sekarang belum terlihat
Tindakan biasa seperti kau bilang
Ya memang biasa untuk sekarang
Entah esok entah lusa

Walaupun orang berkata apa, teguh idealismemu
Korbankanlah semua
Habiskanlah semua
Meraup untung, untuk keperluan pribadimu

Sampai tiba saatnya, sampai sadar saatnya, selembar kertas berlukis pahlawan yang bernilai itu tak bisa dimakan.