Kamis, 17 Agustus 2017

18 MENGANTARKU 21 MENJAMUKU

Agustus 17, 2017



Selasa 15 Agustus 2017

Bukan pertama kalinya aku menginjakkan kaki di stasiun kotabaru malang, tapi ke 2. Tapi yang ini berbeda karena ini pertama kalinya aku meyadari bahwa setelah ini semua cerita baru akan dimulai, lembaran baru dibuka, keringat dan air mata dikeluarkan. Kata orang, Malang adalah Bandungnya Jawa timur, dan mungkin Bandung jaman dulu.

Setelah keluar dari kereta ekonomi Malioboro Ekspres yang dinginya sangat menusuk tulang, benar ini menusuk tulang. Terakhir kulihat suhu di dalam kereta menunjukkan angka 18 derajat. Kebetulan aku sengaja tidak bawa jaket karena tas-ku sudah penuh dengan barang lainya. Hasilnya, ya begitulah.

Keluar dari kereta, kuhirup udara dalam – dalam sambil melafadzkan basmallah, ini saat dimulai perjuanganku. Suhu diluar kereta ternyata tidak terpaut jauh, hanya selisih 3 derajat saja, 21 derajat.

Adzan musholla stasiun telah berkumandang, menambah syahdunya pagi hari yang dingin itu.

Selesai sholat dan sesudah menunggu matahari mulai meninggi, aku coba berjalan keluar kaki mencari makan. Pagi itu jarang orang berjualan makan di pinggir jalan, susah istilahnya. Baru setelah 5 kilo kutemui soto di depan sd klojen di pinggir rumah sakit. Santapan terakhir lalu aku order go-car untuk mengantarku ke kos.

Malang, 18 Agustus 2017

Minggu, 13 Agustus 2017

RUMAH UNTUK KEMBALI PULANG

Agustus 13, 2017





Rabu, 2 Agustus 2017
Yang aku takutkan adalah ketika apa yang selalu dibenci akan menjadi yang selalu dikenang. Saat semua penyesalan menjadi ada karena jarak, dan waktu.

Ini bukan kisah dramatis yang menyedihkan. Tapi lebih ke pengakuan bahwa kita hidup tidak untuk diri sendiri dan juga alasan kita hidup bukan karena tindakan kita sendiri. Seseorang biasanya mengakui saat semua yang dilalui sudah tidak tersentuhnya. Saat dimensi kita berbeda dengan apa yang kita akui. Misalkan kita mengaku kita ingin sehat kala kita sakit, ataupun ingin kaya disaat miskin. Tapi itu justru suatu kenikmatan saat kita merasakan penyesalan dengan kesalahan sendiri sebagai biang kerok. 

Di awal tahun menjelang tengah, saat dengar lagu fourtwnty-Zona nyaman, ini terasa sangat dalam masuk ke dalam pikiranku. Tapi pikirku, ah bisa apa, sudahlah apa yang ada saja dulu. Sesuatu bisa masuk dalam pikiran dan hati dengan mudah ketika kita dalam satu lingkup dimensi yang sama. Misal, saat kondisi galau, lagu lagu menye dapat dengan mudah masuk dan merasuki sehingga kita membenarkan bahwa apa yang dinyanyikan sesuai dengan perasaan. 

Dalam pemikiran sesuai wikipedia, dalam luas bumi yang 510.072.000 km2  dengan 193 negara yang diakui pbb, yang dipimpin oleh group of eight yang mahsyur, dengan saya hanya tinggal di kota kecil dengan kebanggaan akan sejarahnya, dalam sebuah negara berkembang yang menghebatkan kekayaan alamnya dan lupa akan kewajibanya, terlalu mudah terprovokasi dan terlalu gengsi dengan produk dalam negeri. 

Zona nyaman adalah ketika semua terasa mudah ketika semua yang ‘akan’ dijalani sama seperti apa yang ‘sudah’ dijalani. Lalu, apa bedanya?

Saya suka bingung dengan bagaimana sebenarnya pendidikan yang diberikan orangtua kepada anak di Sumatera, karna dari beberapa biografi yang saya baca, orang – orang sumatra yang tinggal di dalam pelosok hutan di bukan pulau sentral istilahnya, dapa tmnejadi orang orang besar yang hebat. Dan ternyata kuncinya adalah kebanyakan dari mereka sudah meninggalkan ke-zona nyamanya dari belasan tahun. 

Sabtu, 12 Agustus 2017
21. 42
Dalam suasana syahdu dengan lampu yang tak lagi mampu melanjutkan tugasnya. Sate Klathak Pak Bari, Pasar Jejeran, kulanjutkan tulisanku.

Hari – hari terakhir menjelang hari yang kunantikan, dimana semua dunia nyaman dan amanku kan ku tinggalkan. Hari ini juga bertepatan dengan selesainya rangkaian ppsmb ugm. Seperti biasa, teman – teman yang masuk ugm membuat koreografinya. 

Perpisahan memang selalu menyedihkan. Tapi bisa juga menyenangkan, bagi orang – orang yang membuatnya menjadi tujuan. Aku selalu benci dengan perpisahan karena di dalamnya terpaksa kutinggalkan apa yang telah ada, dan terpaksa siap untuk menerima apa yang baru, di tempat yang baru pula. 

Kemarin, saat silaturahmi di rumah guru sd-ku, beliau bilang “saya mencintai anak – anak saya, tapi tidak cinta mati, tidak cinta seutuhnya, karena kalau saya cinta mati, pasti saya tidak akan bisa membuka hati bagi generasi baru saat yang saya cintai itu lulus, dan saya tidak akan bisa mengajar dengan maksimal” ya mungkin itu ada benarnya, karena kita memang tak akan bisa maksimal melakukan pekerjaan baru dengan bayang – bayang kenangan lama, istilah keren-nya, move on. 

Tapi saya juga tidak begitu setuju dengan move on, karena dengan itu kita akan melupakan semua hal walaupun itu baik ataupun buruk. Bukan itu yang ingin saya lakukan. Tapi membuat dasar yang baik dari masa lalu, untuk masa depan yang lebih gemilang. Memang terdengar bullshit, tapi akan kucoba.
Selamat tinggal jogja, kota yang melahirkanku dan membentuk diriku, menjadi manusia yang.. ya begini. Orang bilang jogja itu ngangenin, tapi jujur saya belum pernah merasakan seperti itu karena memang saya belum pernah meninggalkan jogja untuk waktu yang lama. Dan mungkin ini saatnya, menjadikan jogja hanya ada ketika liburan dan lebaran. 

Malam terakhir di Jogja
Yogyakarta, 13 Agustus 2017


Senin, 22 Mei 2017

JIWA RAGAKU JIWA MULUTKU

Mei 22, 2017


Dampak dari berkurangnya minat membaca adalah semakin bertambahnya minat cangkeman.

Saya tidak akan membahas siapa yang seharusnya benar atau salah. itu terlalu rumit. Tapi saya punya akan satu keyakinan.

Saya hanya akan membahas respon dari khalayak ramai. Ini sungguh lucu, dimana semua orang berlomba – lomba saling menyalahkan satu sama lain dengan dasarnya sendiri – sendiri. Hal – hal yang langsung viral ini membawa dampak terutama pada anak muda. Timeline LINE semakin ramai dengan tulisan – tulisan panjang, pro kontra topik viral ini. Semua yakin akan pendapatnya sampai sampai menyalahkan orang yang tak sependapat denganya. Yang belum punya waktu nulis panjang panjang hanya bisa merepost yang shared-nya sudah ribuan. Yang agak kritis menyalurkanya dengan berkomentar. Banyak juga yang merasa risih dengan semakin banyaknya perselisihan, tetapi tetap saja merepost, munafik bukan?

Keadilan – keadilan yang di tegakkan, membela atas nama bangsa, membela atas nama negara, membela atas nama agama. Dengan segala opini berputar di kepala. Tulis semua pendapat yang seirama disertai kata kata mutiara dari cuplikan tokoh – tokoh ternama.

Saya mulai yakin dengan hipotesis saya bahwa generasi sekarang hanya peduli dengan apa yang sedang trend dan viral, bercangkem mati – matian untuk ikut berpartisipasi dalam ke-viral an itu. Kalau sudah hilang di dunia maya? Hilanglah sudah pendapat – pendapat itu. Dimana pastisipasi kalian dalam kasus nenek yang dilaporkan mencuri buah kakao?, pendirian pabrik di kendeng, PLTU di batang, bijih besi di kulon progo, atau mungkin kasus lumpur lapindo?. Atau mungkin malah tidak tahu. Keadilan – keadilan yang yang hanya memihak pada satu kasus, bullshit!. Tapi tidak apa – apa, sosmed bebas untuk berekspresi. Suka – suka.

Menurut saya, masyarakat di Indonesia saat ini sedang kehilangan jati dirinya. Ya memang dari awal kemerdekaan, jati diri bangsa sudah mulai luntur. Selama masa penjajahan, saat masing masing kelompok, kaum, etnis, suku, dll memperjuangkan kemerdekaan sendiri – sendiri, maka kemerdekaan itu mustahil tercapai. Tapi setelah ada persatuan dan kesatuan, tujuan itu mudah tercapai. Dan persatuan itu adalah dampak dari nasib penjajahan yang menimpa. Jadi mungkin Indonesia perlu dijajah lagi agar masyarakatnya bersatu lagi, hehe.

Menarik dari semua perdebatan yang ada di Indonesia dewasa ini, dugaan saya bahwa Indonesia semakin menjadi negara boneka yang dimainkan oleh aktor – aktor besar. Masih ingat pelajaran sejarah sewaktu masih sekolah dasar, Devide et impera. Hal termudah menghancurkan sesuatu adalah dari dalam. Dalam kasus ini bahwa menghancurkan sebuah negara. Menghancurkan negara dengan adu domba. Sungguh cara efektif, murah, dan mudah. Kobaran api tidak akan bertambah besar tanpa ada oksigen. Tapi tidak akan menjadi api tanpa ada setitik bara api. Lalu, dengan hasil kobaran api yang semakin membesar ini, menurut saya si setitik bara api itu hanya tertawa karena rencananya berhasil.

Negara ini memang sudah bobrok hukum dari dulu, negara hukum yang hukum tidak bersifat absolut. Hukum di Indonesa adalah hukum elastis. Hukum yang keputusanya “tergantung”. Entah tergantung siapa, berani bayar berapa, atau apalah hal busuk lainya. Kalau memang menyerukan ripjustice, sudah terlambat. Negara ini memang begini dari dulu. Ini seperti kalian bangun kesiangan.

Ya allah, iki janjane negoroku meh digawe kepiye ta, sakjane lak penjenengan wes ngerti bakal kaya ngopo kahanane. Yen pancen negoro iki meh digawe bobrok nggih monggo, kula namung manut. Nek pancen akhlak e wong – wongan indonesia ki cen kurang seko rata – rata nggih diajar sisan wae men kapok lan ben iso guyub rukun meneh ya Allah. Akeh wong nyerukke membela atas agama islam, tapi janjane kula tasih bingung sakjane islam utawi panjenengan niku perlu dibela mboten to. Kula sadar yen panjenengan niku maha kabeh. Sakjane nek mung ngajar sak bumi le cilik iki wae gampang tenan. Terus saiki manusia ki dengan kesombongane ngroso nek dek e ki makhluk paling berkuasa. Nek wes duwe kabeh njuk sombong lan ngroso paling bener. Tapi nek lagi ra nduwe opo opo njur kelingan marang panjenengan. Untung wae jenengan maha ngapurakke. Wess jyan.


tulisan ki yo cen salah sijine cangkeman.


Yogyakarta, 22 Mei 2017

Minggu, 07 Mei 2017

ZAMAN BATU

Mei 07, 2017

(Throwback ; lempar balik)

Mungkin ini bisa dibilang curahan hati. Karena beberapa hari yang lalu saya jadi kepikiran. Akhir akhir ini banyak guru yang dilaporkan siswanya sendiri telah melakukan bentuk bentuk kejahatan fisik. Yang mungkin semua sebenarnya ada tujuanya. Entah itu salah bapak/ibu guru atau siswanya yang memang manja.

Sebenarnya hal itu juga saya alami sewaktu masih duduk di sekolah dasar. Entah saat itu saya yang cuek atau saya memang pemberani. Hahaha. Tapi waktu itu memang tidak ada kasus seperti dewasa ini.

Saya masuk sekolah dasar pada tahun 2005 kalau tidak salah. Saya masuk di SD Pujokusuman 1 Yogyakarta, tempatnya di jalan Kolonel Sugiyono no.9. Kalau dari pojok beteng wetan ke timur beberapa ratus meter, di utara jalan ada SD yang halamanya luas. Sebuah SD yang tergolong tua dengan bangunan kunonya. Memang SD Pujokusuman 1 itu bekas SD IKIP (kalau tidak salah).

    · Kelas 1
Masuk SD di kelas 1 bertemu dengan guru kelas, beliau bernama Ibu Ani, suaranya keras menggelegar dan suka bentak bentak, orangnya tegas dan disiplin. Dengan rambut yang sudah memutih memanjang sampai di atas bahu. Matanya memancarkan aura ketegasan walau hatinya masih tetap mengayomi anak baru yang masih ditunggu orangtua dan kadang pipis di celana.

    · Kelas 2
Ini adalah masa ter-aneh dalam dunia pendidikan menurut saya. SD saya terletak di dekat pasar Pujokusuman. Ibu guru kelas 2 bernama Ibu Djumiyem. Bu Djum lebih santai daripada Bu Ani yang kerap mondar – mandir di kelas sambil berbicara dengan lantang, beliau lebih suka duduk di kursi guru dan membaca untuk anak – anak. Tetapi beliau punya tugas berat bagi beberapa ‘orang orang terpilih’nya. Beliau sering menyuruh siswa kelas 2 SD, kelas 2 SD. Untuk belanja di pasar. Siswa nanti diberi catatan apa yang harus dibeli dan dibekali uang. Memang lucu.

    · Kelas 3
Kelas 3 di SD ini kami seangkatan bertemu dengan Bapak Ngatijo. Beliau juga tergolong sudah berumur dengan rambut yang sudah memutih dan sudah jarang. Beliau paling tidak suka dengan ketidakrapian. Apalagi masalah rambut. Siswa yang tidak rapi pasti berurusan dengan beliau, contohnya saya. Kelas 3 SD rambut saya terlalu panjang melebihi batas normal. Ya hukumanya memang tidak dipotong, tetapi di’jenggit’ di bagia godek (bahasa indonesiane opoyo). Sumpah ini adalah hukuman terberat dan tak kenal ampun, sampai anak yang dijenggit itu menangis baru selesai. Ya hasilnya bisa merah lebam yang tak kunjung hilang 2 hari.

    · Kelas 4
Pak Endarto, guru kelas 4. Sudah terkenal galaknya. Waktu saya masih kelas 1-3 kakak kelas sudah banyak yang menceritakan. Perawakanya necis. Dengan kumis tebal, kulitnya putih. Badan tinggi. Dan celananya cutbray. Beliau paling tidak suka dengan keramaian. Tipe mengajarnya dengan membawa penggaris kayu 1 meter di tanganya. Dengan sesekali memukul meja dengan penggaris itu. Sungguh itu adalah peringatan yang nyata. “jeblarr”. Gaman pembantunya adalah penghapus papan tulis kapur yang terbuat dari kayu. Yang digunakan tidak untuk menghapus. Tetapi lebih sering melayang – layang di kelas. Siswa yang rame dipojokan sering kena ‘bandem’ penghapus dari pojokan meja guru.

Kelas 5 & 6 lebih santai karena memang harus mengejar untuk ujian.

Ya begitulah. Mungkin teman – teman ada yang merasakan ada juga yang tidak. Intinya perbedaan zaman telah mengubah sistem pendidikan saat ini. Tetapi beruntunglah saya karena masih bisa merasakan zaman paleolithikum itu. Dimana gadget tak ada di genggaman. Sadar tak sadar telah memberikan dampak bagi kehidupan saya.

Dan saya sangat berterimakasih kepada guru – guru saya yang telah mengajarkan apa itu kebenaran dan kebaikan. Semoga menjadi amal jariyah untuk bapak dan ibu guru.


Yogyakarta, 7 Mei 2017

Jumat, 21 April 2017

Generasi Bingung

April 21, 2017




Sebentar lagi saya lulus dari bumi Teladan ini. Kampus cemara yang kami cintai dan banggakan. 2014-2017 adalah masa saya di bumi Teladan ini. Dimana menurut saya adalah saat generasi diantara dua sejarah. Generasi yang memikul kewajiban. Generasi yang penuh akan kontradiksi dan segala jenis propagandis.

Tahun – tahun ini dimana masa kami untuk mempertanggungjawabnkan apa yang sudah berlalu. Untuk menumpuk dan menjadi satu untuk dipikul. Kami yang bersekolah pada tahun tahun ini telah dimasuki oleh 2 sejarah yang kontras. Yang pertama adalah generasi sebelum millenium, generasi Teladan yang penuh akan prestasi. Menunjukkan akan ke-Teladananya karena prestasi dalam bidang akademik maupun non-akademik. Generasi yang tersohor di kalangan akan kesantunanya dalam masyarakat, karena itu, generasi ini disebut Teladan. Yang kedua adalah generasi awal millenium. Generasi ini lebih mendekat pada keunggulanya dalam bidang akhlak. Generasi yang sempurna dengan akhlak sebagai pondasinya dan Allah sebagai penolongnya. 

Sedangkan tahun – tahunku, adalah tahun transisi yang entah mau kemana tujuanya. Tahun – tahunku dihadapkan pada dua sejarah yang kontras. Tahun – tahun ini adalah tahun generasi dengan kontradiksi akan keyakinan dari dua sejarah itu. Generasiku adalah generasi frustasi, generasiku adalah generasi bingung yang akan membawa kapal ini ke salah satu dari dua pulau itu ataukah mencari pulau sendiri.

Selang beberapa tahun dari awal millenium juga kebijakan pemerintah tidak boleh mengambil guru secara sesuak hati. Sebelum itu memang guru – guru Teladan adalah guru – guru panggilan yang dirasa mempunyai integritas tinggi dan dirasa dapat memajukan siswa SMA 1. Itu pula yang menurut saya meng-akhiri era kejayaan SMA ini. Dan menurut perhitungan dari tahun – tahun itu, maka tahun – tahunku adalah saatnya bapak ibu guru itu pensiun. 

Tahun – tahunku adalah tahun – tahun penuh tak keterimaan atas tindakan sekolah kepada siswa. Maka dari itu pula akibatnya tahun – tahunku adalah tahun tahun penentangan dan tahun – tahun pembelaan dengan membandingkan dengan “Teladan dulu” yang bahkan belum pernah dilalui. Generasi ini adalah generasi kolot. Generasi kolot dengan tidak setuju, penentangan, dan ketidak terimaan dengan apa yang tidak dirasa menguntungkan saja. Yang memperjuangkan apa yang tidak dirasa pas. Mungkin bisa saja disebut egois. Ya. 

Ya semua itu lumrah terjadi karena memang kebijakan sekolah yang saya rasa hanya tindakan yang cari aman (?). Saya analogikan misal gerak siswa adalah air. Kebijakan adalah tanggul. Untuk menghentikan gerak air, hanya dibangun tanggul di depan air itu akan melaju. Itu sama saja tidak akan menghentikan air tapi hanya akan mengubah arah air. Seharusnya dibuat tanggul disekitar gerak air agar tujuan dari air itu jelas. 

Tapi yang pasti, Teladan adalah sebaik – baiknya sekolah untuk berubah menjadi lebih baik. Tetapi, sekolah ini bukanlah tempat untuk merubah seseorang. Bukan. Sekolah ini adalah tempat dimana kebenaran diajarkan. Kebenaran yang diterapkan dalam kehidupan. Semua siswa mendapat itu. Sekali lagi, Teladan bukanlah tempat untuk merubah seseorang. Tetapi tempat dimana semua kebenaran dan kebaikan diajarkan. Terserah orang itu mau memilih jalan yang mana. Ia pasti akan tahu. Mana yang baik dan mana yang benar.

Yogyakarta,18 April 2017

Minggu, 09 April 2017

Hari - Hari Terakhir (1)

April 09, 2017

Sudah kubilang pakailah jaketku ini, Shabrina. Hujan deras mengguyur jalanan dan kesedihan yang tersimpan di dalamnya.

Akhir – akhir ini Shabrina memintaku untuk menemaninya setiap waktu. Tidak seperti dia, batinku. Biasanya dia cuek dan enggan bertemu untuk hal yang kurang penting. Hari ini Shabrina mengajakku ke rumah sakit di kotaku. Ia bilang dia ingin sekali melihat bayi – bayi mungil nan lucu di rumah sakit. Itu mengingatkanya saat kelahiranya dan sekaligus kehilangan ibunda tercinta yang bahkan belum  pernah dilihatnya. Kunjungan kami waktu itu ditutup dengan kalimatnya yang puitis “kelahiran akan selalu dinantikan dan Ibu akan selalu mengupayakan. Walaupun nyawa taruhan”

Hari ini aku menemukan seberkas map besar hasil lab Shabrina. Rupanya ia menyembunyikan ini dariku. Betapa terkejutnya aku karena apa yang kulihat ini. Entah berapa lama lagi ia dapat berada disisiku. 

 Yogyakarta, 9 April 2017